Back to Book
Atung Bungsu: The Footsteps of the Ancestors in the Land of Rejang
18
1.8
🌐 Translations
Early-stage program. Rates may adjust as the platform grows.

BAB 4 — RATU RAMBUT SELAKE

Beberapa hari kemudian, utusan dari masyarakat setempat datang membawa kabar.

💬 0

Pemimpin mereka bersedia menerima kedatangan Atung Bungsu untuk membicarakan persoalan yang mulai berkembang di antara kedua kelompok.

💬 0

Dalam versi cerita rakyat yang menjadi inspirasi novel ini, pemimpin tersebut dikenal dengan nama Ratu Rambut Selake dan dikaitkan dengan masyarakat Rejang dan Berige yang lebih dahulu tinggal di wilayah itu.

💬 0

Atung Bungsu mempersiapkan diri untuk pertemuan tersebut. Ia memilih beberapa orang untuk menemaninya, tetapi meminta agar mereka tidak membawa perlengkapan yang dapat dianggap sebagai ancaman.

💬 0

Ketika tiba di tempat pertemuan, ia melihat sejumlah orang telah berkumpul. Mereka memperhatikan kedatangannya dengan sikap berhati-hati.

💬 0

Di bagian depan, seorang pemimpin duduk bersama para tetua masyarakat.

💬 0

Ratu Rambut Selake menatap Atung Bungsu.

💬 0

“Jadi, engkau adalah orang yang datang bersama rombongan dari luar wilayah ini?”

💬 0

“Benar. Namaku Atung Bungsu.”

💬 0

“Aku mendengar bahwa rombonganmu telah mulai membuka lahan.”

💬 0

Atung Bungsu mengangguk.

💬 0

“Kami membuka sebagian lahan untuk kebutuhan sementara. Namun, setelah mengetahui bahwa masyarakat telah tinggal di kawasan ini, aku datang untuk membicarakan keadaan sebenarnya.”

💬 0

Ratu Rambut Selake mengamati wajahnya.

💬 0

“Banyak orang datang ke suatu tempat dengan mengatakan bahwa mereka hanya mencari kehidupan baru. Akan tetapi, setelah mereka kuat, mereka mulai menganggap seluruh wilayah sebagai milik mereka.”

💬 0

Atung Bungsu tidak membantah.

💬 0

“Aku tidak dapat menjamin bahwa semua orang akan selalu memiliki pandangan yang sama. Namun, aku dapat menyampaikan niatku dan bertanggung jawab atas keputusan yang kuambil.”

💬 0

Seorang tetua yang duduk di dekat Ratu Rambut Selake kemudian berbicara.

💬 0

“Tanah bukan hanya tempat seseorang berdiri. Tanah adalah tempat anak-anak dilahirkan, keluarga dibesarkan, dan adat diwariskan. Bagaimana kami dapat menerima kehadiran kelompok baru tanpa mengetahui maksud mereka?”

💬 0

Atung Bungsu menjawab dengan tenang.

💬 0

“Aku tidak meminta kalian melupakan kehidupan yang telah dibangun di sini. Aku hanya berharap ada jalan bagi rombongan kami untuk hidup tanpa mengganggu kehidupan kalian.”

💬 0

Ratu Rambut Selake mengangkat tangannya, meminta orang-orang yang mulai berbisik untuk diam.

💬 0

“Kalau begitu, kita harus membicarakan persoalan ini dengan jelas. Siapa yang berhak menggunakan tanah? Bagian mana yang telah menjadi tempat tinggal masyarakat kami? Dan bagaimana kita memastikan bahwa perselisihan tidak terus berulang?”

💬 0

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab.

💬 0

Atung Bungsu menjelaskan perjalanan yang telah ditempuhnya, petunjuk yang diikutinya, dan alasan rombongannya memilih kawasan itu.

💬 0

Ia tidak mengatakan bahwa perjalanan panjang tersebut memberinya hak untuk menguasai semua tanah yang mereka temukan.

💬 0

Sebaliknya, ia menyampaikan bahwa mereka membutuhkan tempat untuk membangun permukiman dan bersedia membicarakan batas serta aturan bersama.

💬 0

Ratu Rambut Selake mendengarkan tanpa segera memberikan keputusan.

💬 0

“Engkau berbicara dengan baik, Atung Bungsu. Tetapi kata-kata belum membuktikan bahwa seseorang dapat dipercaya.”

💬 0

“Aku memahami itu,” jawab Atung Bungsu. “Kepercayaan harus dibuktikan melalui tindakan.”

💬 0

Pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan akhir.

💬 0

Masing-masing pihak diberi kesempatan untuk membicarakan persoalan itu bersama masyarakatnya. Mereka perlu memahami apa yang dipertaruhkan sebelum menyepakati langkah berikutnya.

💬 0

Ketika Atung Bungsu meninggalkan tempat pertemuan, salah seorang pengikutnya mendekat.

💬 0

“Apakah kita akan mendapatkan tanah yang kita inginkan, Tuan?”

💬 0

Atung Bungsu memandang jalan di hadapannya.

💬 0

“Aku belum tahu.”

💬 0

“Apakah Tuan tidak khawatir?”

💬 0

“Tentu saja aku khawatir. Aku bertanggung jawab atas orang-orang yang telah mengikutiku sampai ke tempat ini.”

💬 0

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

💬 0

“Tetapi jika kita memperoleh tempat tinggal dengan menghancurkan kehidupan orang lain, apakah kita benar-benar sedang membangun masa depan?”

💬 0

Pengikutnya tidak menjawab.

💬 0

Malam itu, dua kelompok masyarakat membicarakan persoalan yang sama dari sudut pandang masing-masing.

💬 0

Bagi rombongan Atung Bungsu, tanah tersebut menjanjikan awal kehidupan baru.

💬 0

Bagi masyarakat yang dipimpin Ratu Rambut Selake, tanah itu menyimpan kehidupan yang telah berlangsung jauh sebelum kedatangan mereka.

💬 0

Di antara kedua kepentingan tersebut, sebuah keputusan harus ditemukan.

💬 0

Jika tidak, perbedaan yang semula dapat dibicarakan berisiko berubah menjadi permusuhan.

💬 0

Paragraph Comments 0

Loading...
📖 Chapter List - Atung Bungsu: Jejak Leluhur di Tanah Rejang
Batch Purchase Owned 0/0 ch.