Back to Book
Atung Bungsu: The Footsteps of the Ancestors in the Land of Rejang
18
1.8
🌐 Translations
Early-stage program. Rates may adjust as the platform grows.

BAB 3 — RUMAH YANG TELAH LEBIH DAHULU ADA

Pada suatu pagi, beberapa anggota rombongan Atung Bungsu kembali dari penjelajahan dengan wajah tegang.

💬 0

Mereka membawa kabar bahwa terdapat kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah tidak jauh dari permukiman sementara mereka.

💬 0

“Di balik perbukitan, kami melihat rumah-rumah dan lahan yang dikelola oleh penduduk setempat,” lapor seorang anggota rombongan.

💬 0

Atung Bungsu segera meminta penjelasan.

💬 0

“Apakah kalian telah berbicara dengan mereka?”

💬 0

“Belum, Tuan. Kami hanya melihat dari kejauhan. Kami tidak ingin menimbulkan masalah sebelum mengetahui siapa mereka.”

💬 0

Atung Bungsu mengangguk. Ia memahami bahwa kedatangan rombongannya mungkin terlihat berbeda dari sudut pandang orang-orang yang telah tinggal di sana.

💬 0

Ia kemudian memutuskan untuk tidak mengirim lebih banyak orang sebelum mengetahui keadaan sebenarnya.

💬 0

“Kita datang untuk mencari tempat membangun kehidupan, bukan untuk menimbulkan ketakutan,” katanya.

💬 0

Pada hari berikutnya, Atung Bungsu bersama beberapa orang yang dipercaya berangkat menuju kawasan tersebut.

💬 0

Mereka melewati jalan setapak di antara pepohonan hingga akhirnya melihat sebuah permukiman. Beberapa penduduk sedang bekerja, sementara yang lain membawa hasil kebun.

💬 0

Ketika melihat rombongan asing mendekat, sebagian penduduk menghentikan pekerjaan mereka.

💬 0

Seorang pria melangkah maju.

💬 0

“Siapakah kalian, dan apa tujuan kedatangan kalian?” tanyanya dengan nada waspada.

💬 0

Atung Bungsu tidak langsung melangkah lebih dekat. Ia berhenti pada jarak yang dianggapnya pantas.

💬 0

“Namaku Atung Bungsu. Kami datang dari perjalanan panjang untuk mencari tanah tempat membangun kehidupan baru.”

💬 0

Pria itu memperhatikan pakaian dan perlengkapan mereka.

💬 0

“Tanah ini bukan tempat kosong. Kami telah hidup di sini bersama keluarga dan masyarakat kami.”

💬 0

Atung Bungsu mengangguk.

💬 0

“Aku memahami bahwa kalian memiliki kehidupan di sini. Kami tidak datang dengan niat mengganggu keluarga kalian.”

💬 0

“Lalu, mengapa kalian mendirikan permukiman di wilayah ini?”

💬 0

Pertanyaan itu membuat Atung Bungsu terdiam sejenak.

💬 0

Ia menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan tanah.

💬 0

“Kami menemukan kawasan yang menurut kami cocok untuk membangun kehidupan. Namun, kami belum mengetahui seluruh keadaan wilayah ini. Karena itu, aku datang untuk berbicara.”

💬 0

Pria tersebut belum sepenuhnya percaya.

💬 0

“Namaku tidak penting untuk saat ini. Yang perlu kalian ketahui, masyarakat kami mempunyai pemimpin dan adat yang harus dihormati.”

💬 0

Atung Bungsu mengangguk sekali lagi.

💬 0

“Kalau begitu, izinkan aku bertemu dengan pemimpin kalian. Aku ingin menyampaikan maksud kami secara langsung.”

💬 0

Setelah berdiskusi dengan beberapa penduduk, pria itu akhirnya bersedia membawa pesan Atung Bungsu kepada pemimpin masyarakat mereka.

💬 0

Sebelum rombongan itu pergi, ia menyampaikan satu peringatan.

💬 0

“Jangan menganggap bahwa tanah yang kalian temukan adalah tanah yang tidak memiliki pemilik hanya karena kalian belum melihat penghuninya.”

💬 0

Kalimat itu terus terngiang di benak Atung Bungsu sepanjang perjalanan pulang.

💬 0

Ia tidak ingin membatalkan harapan rombongannya untuk menetap. Namun, ia juga tidak dapat mengabaikan keberadaan masyarakat yang telah lebih dahulu membangun kehidupan di kawasan tersebut.

💬 0

Malam itu, ia mengumpulkan rombongannya.

💬 0

“Kita harus memahami keadaan sebelum melangkah lebih jauh,” katanya.

💬 0

Salah seorang anggota rombongan tampak tidak puas.

💬 0

“Bukankah kita telah bersusah payah menemukan tempat ini? Mengapa sekarang kita harus memikirkan orang lain?”

💬 0

Atung Bungsu menatapnya dengan serius.

💬 0

“Karena kesulitan yang kita alami tidak menghapus kehidupan orang lain. Kita berhak mencari tempat untuk hidup, tetapi kita juga harus memahami hak dan kepentingan mereka yang telah berada di sini.”

💬 0

Tidak semua orang menerima penjelasan itu dengan mudah.

💬 0

Sebagian mulai mengkhawatirkan masa depan mereka. Sebagian lain takut bahwa perselisihan akan membuat perjalanan panjang mereka sia-sia.

💬 0

Atung Bungsu sendiri belum mengetahui bagaimana persoalan tersebut akan berakhir.

💬 0

Namun, ia telah mengambil keputusan: sebelum ada kesepakatan, ia tidak akan membiarkan keinginannya untuk menetap menjadi alasan bagi rombongannya untuk bertindak sewenang-wenang.

💬 0

Paragraph Comments 0

Loading...
📖 Chapter List - Atung Bungsu: Jejak Leluhur di Tanah Rejang
Batch Purchase Owned 0/0 ch.