Back to Book
Atung Bungsu: The Footsteps of the Ancestors in the Land of Rejang
18
1.8
🌐 Translations
Early-stage program. Rates may adjust as the platform grows.

BAB 2 — TANAH YANG MENJANJIKAN KEHIDUPAN

Pagi berikutnya, Atung Bungsu mengajak beberapa anggota rombongannya menjelajahi kawasan yang mereka temukan.

💬 0

Mereka berjalan melewati tanah lapang, memperhatikan pepohonan, dan mencari tempat yang memungkinkan untuk membangun rumah.

💬 0

Di beberapa bagian, tanah terlihat cukup subur. Tidak jauh dari sana, air sungai dapat dijangkau dengan mudah.

💬 0

“Jika kita membangun permukiman di sini, kita tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk mendapatkan air,” ujar salah seorang anggota rombongan.

💬 0

Atung Bungsu mengangguk.

💬 0

“Benar. Tetapi kita juga harus memikirkan tempat bercocok tanam, keamanan keluarga, dan kehidupan anak-anak kita kelak.”

💬 0

Mereka kemudian kembali ke tempat peristirahatan untuk membicarakan hasil penjelajahan.

💬 0

Sebagian anggota rombongan ingin segera membuka lahan. Mereka telah terlalu lama berpindah-pindah dan menginginkan tempat tinggal yang tetap.

💬 0

Sebagian lainnya mengusulkan agar mereka menunggu beberapa hari untuk memastikan keadaan wilayah tersebut.

💬 0

Atung Bungsu mendengarkan setiap pendapat.

💬 0

“Kita telah menempuh perjalanan jauh,” katanya. “Aku memahami keinginan kalian untuk segera menetap. Namun, membangun rumah tidak sama dengan membangun kehidupan. Kita harus memastikan bahwa keputusan kita tidak membawa kesulitan bagi orang lain.”

💬 0

Seorang anggota rombongan bertanya, “Apakah Tuan mengkhawatirkan sesuatu?”

💬 0

“Aku hanya ingin kita mengetahui keadaan tanah ini dengan benar sebelum mengambil keputusan.”

💬 0

Setelah berdiskusi, mereka sepakat memulai persiapan secara bertahap. Mereka mendirikan tempat tinggal sementara dan membersihkan sebagian kecil lahan yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

💬 0

Hari demi hari berlalu.

💬 0

Rombongan itu mulai mengenal lingkungan sekitar. Mereka mengatur persediaan makanan, memperbaiki tempat berteduh, dan menyiapkan lahan untuk ditanami.

💬 0

Atung Bungsu merasa lega melihat semangat mereka.

💬 0

Di tengah kesibukan itu, ia bertemu dengan Putri Kenantan Buih. Kehadiran sang putri dalam kehidupannya menjadi bagian penting dari perjalanan yang mereka bangun bersama.

💬 0

Mereka berbicara mengenai masa depan permukiman tersebut.

💬 0

“Menurutmu, apakah tempat ini akan menjadi rumah bagi banyak orang?” tanya Putri Kenantan Buih.

💬 0

Atung Bungsu memandang lembah yang terbentang di hadapannya.

💬 0

“Aku berharap demikian. Namun, sebuah tempat tidak menjadi besar hanya karena banyak rumah berdiri di atasnya.”

💬 0

“Lalu, apa yang membuatnya besar?”

💬 0

“Orang-orang yang menjaganya. Mereka yang mampu hidup bersama, menghormati aturan, dan menyelesaikan perselisihan tanpa menghancurkan kehidupan satu sama lain.”

💬 0

Putri Kenantan Buih terdiam sejenak, kemudian tersenyum.

💬 0

“Kalau begitu, jangan hanya membangun tempat tinggal. Bangunlah juga alasan bagi orang-orang untuk tetap tinggal bersama.”

💬 0

Kata-kata itu terus teringat dalam pikiran Atung Bungsu.

💬 0

Dalam legenda yang menjadi inspirasi cerita ini, Atung Bungsu dan Putri Kenantan Buih dikisahkan mendirikan pusat pemerintahan Keratuan Besemah di Benue Keling.

💬 0

Bagi Atung Bungsu, pendirian sebuah keratuan bukan sekadar menandai kekuasaan. Ia berharap wilayah tersebut kelak menjadi tempat masyarakat membangun kehidupan dengan aturan yang menjaga keteraturan.

💬 0

Akan tetapi, sebelum impiannya terwujud sepenuhnya, ia harus menghadapi kenyataan yang belum diketahuinya.

💬 0

Mereka bukan satu-satunya masyarakat yang memiliki hubungan dengan tanah tersebut.

💬 0

Dan tidak semua orang akan menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.

💬 0

Paragraph Comments 0

Loading...
📖 Chapter List - Atung Bungsu: Jejak Leluhur di Tanah Rejang
Batch Purchase Owned 0/0 ch.