Atung Bungsu: The Footsteps of the Ancestors in the Land of Rejang
Actions
🌐 Translations
BAB 2 — TANAH YANG MENJANJIKAN KEHIDUPAN
Pagi berikutnya, Atung Bungsu mengajak beberapa anggota rombongannya menjelajahi kawasan yang mereka temukan.
💬 0Mereka berjalan melewati tanah lapang, memperhatikan pepohonan, dan mencari tempat yang memungkinkan untuk membangun rumah.
💬 0Di beberapa bagian, tanah terlihat cukup subur. Tidak jauh dari sana, air sungai dapat dijangkau dengan mudah.
💬 0“Jika kita membangun permukiman di sini, kita tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk mendapatkan air,” ujar salah seorang anggota rombongan.
💬 0Atung Bungsu mengangguk.
💬 0“Benar. Tetapi kita juga harus memikirkan tempat bercocok tanam, keamanan keluarga, dan kehidupan anak-anak kita kelak.”
💬 0Mereka kemudian kembali ke tempat peristirahatan untuk membicarakan hasil penjelajahan.
💬 0Sebagian anggota rombongan ingin segera membuka lahan. Mereka telah terlalu lama berpindah-pindah dan menginginkan tempat tinggal yang tetap.
💬 0Sebagian lainnya mengusulkan agar mereka menunggu beberapa hari untuk memastikan keadaan wilayah tersebut.
💬 0Atung Bungsu mendengarkan setiap pendapat.
💬 0“Kita telah menempuh perjalanan jauh,” katanya. “Aku memahami keinginan kalian untuk segera menetap. Namun, membangun rumah tidak sama dengan membangun kehidupan. Kita harus memastikan bahwa keputusan kita tidak membawa kesulitan bagi orang lain.”
💬 0Seorang anggota rombongan bertanya, “Apakah Tuan mengkhawatirkan sesuatu?”
💬 0“Aku hanya ingin kita mengetahui keadaan tanah ini dengan benar sebelum mengambil keputusan.”
💬 0Setelah berdiskusi, mereka sepakat memulai persiapan secara bertahap. Mereka mendirikan tempat tinggal sementara dan membersihkan sebagian kecil lahan yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari.
💬 0Hari demi hari berlalu.
💬 0Rombongan itu mulai mengenal lingkungan sekitar. Mereka mengatur persediaan makanan, memperbaiki tempat berteduh, dan menyiapkan lahan untuk ditanami.
💬 0Atung Bungsu merasa lega melihat semangat mereka.
💬 0Di tengah kesibukan itu, ia bertemu dengan Putri Kenantan Buih. Kehadiran sang putri dalam kehidupannya menjadi bagian penting dari perjalanan yang mereka bangun bersama.
💬 0Mereka berbicara mengenai masa depan permukiman tersebut.
💬 0“Menurutmu, apakah tempat ini akan menjadi rumah bagi banyak orang?” tanya Putri Kenantan Buih.
💬 0Atung Bungsu memandang lembah yang terbentang di hadapannya.
💬 0“Aku berharap demikian. Namun, sebuah tempat tidak menjadi besar hanya karena banyak rumah berdiri di atasnya.”
💬 0“Lalu, apa yang membuatnya besar?”
💬 0“Orang-orang yang menjaganya. Mereka yang mampu hidup bersama, menghormati aturan, dan menyelesaikan perselisihan tanpa menghancurkan kehidupan satu sama lain.”
💬 0Putri Kenantan Buih terdiam sejenak, kemudian tersenyum.
💬 0“Kalau begitu, jangan hanya membangun tempat tinggal. Bangunlah juga alasan bagi orang-orang untuk tetap tinggal bersama.”
💬 0Kata-kata itu terus teringat dalam pikiran Atung Bungsu.
💬 0Dalam legenda yang menjadi inspirasi cerita ini, Atung Bungsu dan Putri Kenantan Buih dikisahkan mendirikan pusat pemerintahan Keratuan Besemah di Benue Keling.
💬 0Bagi Atung Bungsu, pendirian sebuah keratuan bukan sekadar menandai kekuasaan. Ia berharap wilayah tersebut kelak menjadi tempat masyarakat membangun kehidupan dengan aturan yang menjaga keteraturan.
💬 0Akan tetapi, sebelum impiannya terwujud sepenuhnya, ia harus menghadapi kenyataan yang belum diketahuinya.
💬 0Mereka bukan satu-satunya masyarakat yang memiliki hubungan dengan tanah tersebut.
💬 0Dan tidak semua orang akan menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka.
💬 0
Paragraph Comments 0
Log in to comment
Login